Menguak Sejarah dan Penyebab Homoseksual (Gay, Lesbian, LGBT, dll)

Holla…

Kali ini kita akan membahas topik yang agak sensitif. Yup, tentang bagian dari LGBT, yaitu gay dan lesbian (homoseksual).

Mari kita mulai.

Homoseksual atau yang sering disebut gay untuk laki-laki, dan untuk perempuan disebut lesbian (berasal dari kata Lesbos, nama pulau tempat tinggal Sappho sang pujangga wanita yang terkenal karena cinta sejenis). Kata homoseksualitas sejak lama sudah memiliki konotasi medik dan pengertian yang kurang baik.

Kata homoseksual berasal dari bahasa Yunani homo berarti “sama” dan bahasa Latin sex berarti “seks”.

Dalam KBBI homoseksual adalah keadaan tertarik terhadap orang dari jenis kelamin yang sama. Istilah homoseksualitas sering menggambarkan perilaku terbuka seseorang, orientasi seksual, dan rasa identitas pribadi atau sosial. Banyak orang memilih untuk mengidentifikasi orientasi seksual dengan menggunakan istilah lesbi dan gay, daripada istilah homoseksual.

Sampai dengan abad ke-19, aktivitas sama jenis kelamin (terutama sesama pria) disebut dalam teks Anglo-Amerika dalam istilah “tindakan tidak alami” (unnatural acts), “kejahatan melawan alam” (crimes against nature), “sodomi”, atau “persetubuhan dua laki-laki” (buggery).

Kata sodomi yang digunakan di sini berasal dari istilah Alkitab yang bercerita tentang kaum Sodom. Kaum ini juga disebut dalam Al Qur’an sebagai kaum Nabi Luth yang menceritakan pertama kalinya terjadi sodomi dan hukuman mati bagi pelakunya di Eropa dan Amerika. Akan tetapi, lambat laun hukum berganti bergantung pada siapa yang memegang kekuasaan.

Menjelang revolusi Perancis, kriminalisasi atas sodomi mulai berkurang, karena campur tangan Jean-Jacques-Régis de Cambacérès, Konsul Kedua yang merupakan pelaku homoseksual. Pada tahun 1857 Auguste Ambroise Tardieu (1818–1879) menerbitkan Kajian Medico-Legal tentang Pelanggaran Kesusilaan Publik yang menyimpulkan bahwa ciri psikologis dan perilaku kebancian merupakan bentuk ketidakwarasan.

Secara medis, kelompok homoseksual dan biseksual dalam PPDGJ III tidak berdiri sendiri sebagai suatu kelainan. Kelompok ini telah dihapus sebagai kelainan jiwa sejak 1973 di USA oleh American psychiatric Association.

  • PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) merupakan buku rujukan diagnosis gangguan jiwa yang dipakai oleh klinisi dokter dan dokter spesialis jiwa di Indonesia.

Di Indonesia mereka ini tidak termasuk gangguan jiwa lagi sejak 1983. Dalam PPDGJ II homoseksualitas telah dikeluarkan sebagai gangguan jiwa. WHO mulai menghapus kelompok ini sebagai gangguan sejak 1992 dalam ICDnya.

  • ICD (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems) atau disingkat ICD adalah suatu sistem klasifikasi penyakit dan beragam jenis tanda-tanda, gejala, kelainan, komplain dan penyebab eksternal dari suatu penyakit. Setiap kondisi kesehatan diberikan kategori dan kode. Saat ini yang dipakai adalah ICD 10.

Kelompok homoseksual telah ada sejak zaman dahulu dan ada dalam semua peradaban serta suku bangsa. Adanya mereka ini disikapi oleh sesama manusia dalam masyarakatnya secara berbeda-beda.

Demikian pula sikap orang lain terhadap mereka pun pada umumnya berubah-ubah sepanjang zaman. Ada yang tolerir ada yang mencerca tetapi ada pula yang menjunjung tinggi kondisi ini misalnya pada zaman Yunani kuno. Ada pula kegiatan homoseksual yang dikaitkan dengan upacara-upacara keagamaan atau terikat dengan budaya tertentu.

Mereka ini ditolerir tetapi kadang-kadang juga tidak. Keberadaan mereka agak sulit diketahui karena selain terdapat stigma terdapat pula perbedaan antara komponen perilaku seksual, yaitu dalam nafsu, perilaku dan identitas.

Homoseksual terdapat dalam kehidupan masyarakat dan ada diantara kita.

Dalam penelitian Kinsey tahun 1948 didapatkan dalam sampel yang berumur antara 16 sampai 55 tahun dan didapatkan jumlah homoseksual sebanyak 4%.

Penelitian setelahnya mendapatkan hasil sekitar 20% dari para pria pernah mempunyai kontak homoseksual selama hidupnya. Juga didapatkan bahwa 5 sampai 7% berperilaku demikian dalam hidupnya dan seperempat hingga setengahnya melaporkan mempunyai kontak demikian dalam 12 bulan sebelumnya. Untuk perempuan jumlahnya diperkirakan sekitar setengah atau lebih sedikit dari jumlah kaum lelaki.

Berdasarkan data oleh American Psychiatric Association, perkiraan prevalensi pria yang diidentifikasi sebagai homoseksual bervariasi dari 1,3% hingga 5,8%.

Dalam kehidupannya di masyarakat, kaum homoseksual mempunyai tempat-tempat pertemuan tertentu. Tempat keramaian, panti pijat, tempat mandi, organisasi dan lain-lain. Mereka bisa berpasangan seperti orang dalam dunia heteroseksual untuk jangka waktu lama. Hal ini terutama dapat terwujud di lingkungan seperti negara-negara yang mensahkan pernikahan sesama jenis.

Masalah orientasi seksual masih menjadi topik perdebatan ilmiah. Pendapat berkisar pada penyebab biologis atau lingkungan. Namun, sejak 1990-an, berbagai penemuan telah mendukung dasar lingkungan sebagai hal yang memengaruhi orientasi seksual seseorang.

Pengalaman seseorang di tahun-tahun pertama kehidupan (seperti permainan, interaksi dengan teman, pengalaman keluarga) sangat penting dalam pembentukan orientasi seksual. Anak-anak mempelajari apa yang mereka lihat, dan cara mereka mengalami seksualitas juga melibatkan pembelajaran.

Studi ilmiah tidak mendukung dasar genetik sebagai penyebab orientasi seksual homoseksual namun lebih menyoroti perkembangan lingkungan sebagai pengaruh yang kuat.

Studi dalam psikologi menunjukkan bahwa pentingnya peran keluarga dalam hal seseorang mengidentifikasi seksualitasnya, apakah sesuatu dianggap feminim ataupun maskulin. Penguatan perilaku gender tertentu akan mempengaruhi pembelajaran dan perkembangan individu.

Terkait dengan teori genetik, terdapat sebuah penelitian yang menarik perhatian. Sebuah studi tentang kembar identik, ditemukan hasil bahwa kembar identik (monozigot) tidak berhubungan dengan orientasi seksual homoseksual. Persentase kembar identik dengan orientasi seksual homoseksual tidak ada perbedaan dengan kembar non identik maupun saudara kandung non-identik. Hal ini menyoroti orientasi seksual homoseksual tidak dipengaruhi oleh genetik. Namun efek interaksi keluarga dan sosial sebagai elemen kunci dalam pengembangan orientasi seksual. Misalnya, seseorang dapat cenderung memiliki oreintasi seksual homoseksual jika ada saudara kandung yang homoseksual, bahkan ketika dia diadopsi.

Namun terdapat sebuah studi menarik lainnya tentang studi hormonal endokrin. Dimana orientasi seksual homoseksual terkait dengan paparan hormon tertentu sebelum lahir. Data dari studi neuroendokrin menunjukkan bahwa orientasi seksual ditentukan oleh efek tingkat androgen pada struktur saraf. Jika struktur ini terpapar pada tingkat androgen tertentu, mereka menjadi maskulin dan menghasilkan ketertarikan pada wanita. Sebaliknya jika paparan androgen tingkat tinggi tidak terjadi, struktur tidak menjadi maskulin dan dihasilkan ketertarikan terhadap laki-laki.

Baca juga: Mengenal Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD), Apakah Berbahaya?

Berbagai penelitian terkait penyebab orientasi seksual homoseksual hingga saat ini terus berlanjut. Meskipun saat ini teori mengenai peranan faktor lingkungan sudah mulai diterima dan toeri faktor genetik sudah dibantahkan, namun masih perlu studi lebih lanjut. Hal ini terkait dengan studi mengenai neuroendokrin yang ternyata memiliki peran dalam orientasi seksual homoseksual.

Ini baru sekilas mengenai sejarah dan perdebatan teori penyebab homoseksual. Belum lagi perdebatan dari pandangan agama dan sosial tentang homoseksual. Untuk informasi yang lebih detail, mungkin kamu bisa baca dari referensi di bawah ini.

Ingat! Selalu bijak dalam membaca, memahami, dan menyebarkan informasi ya!.

  • Departement Psikiatri FKUI. Buku Ajar Psikiatri. 3rd ed. (Elvira SD, Hadisukanto G, eds.). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017.
  • Andina E. DENGAN GERAKAN LGBT DI INDONESIA – Psychosocial Factors Interacting With LGBT Movement in Indonesia. Aspirasi. 2016;7(November):173-185.
  • Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. 2nd ed. Jakarta: EGC; 2010.
  • American Psychiatric Assosiasion. Gay Populations. Am Psychiatr Assos. 2018;(Table 4):9-11.
  • Sheldon JP, Msw CAP. Beliefs About the Etiology of Homosexuality and About the Ramifications of Discovering Its Possible Genetic Origin. J Homosex. 2008;52(January 2015):37-41.
  • Bartens K. Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2016.
  • Frias-navarro D, Monterde-i-bort H, Pascual-soler M, et al. Etiology of Homosexuality and Attitudes Toward Same-Sex Parenting : A Randomized Study Etiology of Homosexuality and Attitudes Toward Same-Sex Parenting : A Randomized Study. J Sex Res. 2015;4499.

12 Komentar Tambahkan milikmu
  1. kalo ngomongin tentang homoseksual ini kayanya emang bakal panjang banget pembahasannya ya.. huhu. Ngga menyangkal bahwa kita memang mungkin dikelilingi oleh homokseksual secara sadar ataupun tidak ya..

  2. Baru tau sejarahnya. Sekarang ini kehidupan homo atau lesbi yang biasanya mereka tutup-tutupi sekarang mulai berani terang-terangan. Bahkan di tiktok kehidupan mereka selalu muncul di FYP. Takutnya sekarang hal yang tidak umum menjadi umum gara-gara medsos. Kasihan generasi muda yang nonton. Bisa bisa terpengaruh

  3. Makasih sharing artikel ini. Ada sih temen yang aku kenal, waktu mahasiswa biasa aja, pacaran ama cewek. Reuni ketemu lagi, lho udah pindah haluan. Biasa aja…woles. Kitanya yg risih…Bener banget golongan mereka ada di antara kita.

  4. Dari beberapa referensi & testimoni yg pernah kubaca, rata-rata LGBT terjadi akibat faktor lingkungan. Entah kekerasan yg pernah mereka lihat dan alami sejak kecil, atau faktor salahnya pola asuh terhadap anak sesuai gendernya. Bisa juga karena faktor pergaulan.
    Intinya, LGBT sendiri sudah menyalahi aturan norma dan keselarasan hidup dengan alam. Semoga yg masih bertahan pada pilihan itu segera disadarkan.

  5. Aku agak ternganga si baca blog ini terus terang aku belum pernah sama sekali mencari tau penyebabnya apalagi sejarahnya.. kyak ga amu tau gitu, tpi di sadarkan dengan artikel ini bahwa mengetahui itu penting ada nya

  6. Jadi untuk saat ini faktor lingkungan ya yang jadi penyebab utama seseorang bisa jadi homoseksual. Tampaknya memang seperti itu, seperti yang beberapa kali pernah saya baca.
    Makasih sharing ilmunya, Mbak 🙂

  7. Iya benar sekali lingkungan juga bisa memberikan pengaruh terhadap orientasi seksual. Maka dari itu peran keluarga sangat diperlukan untuk memperkuat perilaku mereka agar sesuai dengan gendernya.

  8. Memang selalu menjadi perdebatan diantara banyak orang, apalagi dinegara yang menganut paham bebas. Kalau dilihat dari beberpa pengertian, ini merupakan perilaku menyimpang. Kudu diberikan perlakuan tertentu. Menarik juga kalau ditilik dari segi keilmuan

  9. Agak sulit memang menentukan apakah homoseksual dari faktor genetik ataupun keturunan. Meski bukan termasuk dalam gangguan jiwa, sepertinya homoseksual masih dipandang sebagai bentuk penyimpangan seksual.
    Duh ini agak berat karena belum tahu penyebabnya. Beberapa memang dari orang yang homoseksual berusaha lepas dari itu, juga beberapa yang menunjukkan eksistensinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.